Senin, September 8th, 2008...11:18

Iklan ‘Sarat Makna’

Jump to Comments

Ditulis oleh Th. D. Wulandari & Anugerah Perkasa

Di sela-sela kemeriahan Ramadan, negara ini juga tengah bersiap dengan gegap gempita pesta demokrasi yang akan berlangsung tahun depan. Bahkan belakangan mulai bermunculan tokoh-tokoh politik yang gencar tampil melalui iklan layar kaca meski kemasannya dibesut lebih kalem, tanpa slogan-slogan politik dan membawa bendera partai mana pun.

Dalam sehari iklan para tokoh politik di televisi itu bisa tayang lebih dari lima kali. Durasinya juga berlangsung antara dua hingga tiga menit. Artinya, butuh bujet besar untuk membuat satu paket iklan. Jika dikaitkan dengan semakin dekatnya pemilihan presiden pada 2009, adakah kaitan iklan di layar kaca dengan pilpres tahun depan?

Salah satu tokoh politik yang kerap tampil di layar lebar lewat iklan adalah Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional Sutrisno Bachir yang akrab dengan slogan Hidup adalah perbuatan. Meski disebut-sebut sebagai salah satu kandidat yang akan maju dalam ajang kompetisi menuju kursi presiden periode mendatang, Sutrisno enggan menyebutkan iklannya itu bertujuan ke arah itu. Sutrisno lebih suka menyebut iklannya sebagai pembawa pesan moral yang secara tidak langsung membuatnya kini sebagai sosok populer di mata masyarakat Indonesia.

“Iklan itu muncul menyusul peringatan Hari Kebangkitan Nasional kala itu yang isinya memberi inspirasi dan semangat orang melalui slogan hidup adalah perbuatan,” ujar pria kelahiran 10 April 1957 ini.

Sesuai dengan tujuannya, sejak muncul melalui iklan Sutrisno mengaku masyarakat di hampir semua golongan dan lapisan mengenalnya sebagai tokoh pembawa pesan inspirasi dan pengobar semangat.

Bahkan, Sutrisno berharap dirinya bisa dikenal orang sebagai inspirator positif bagi bangsa ini.

“Kalau yang lain kan iklan pilpres, kalau saya tidak ada hubungannya dengan itu karena belum tahu apakah saya mau maju atau tidak kok,” ujarnya.

Meski anggaran yang harus disediakan cukup besar, tetapi agenda iklan dalam bentuk pesan-pesan inspiratif itu akan terus dilakukan. Mungkin saja karena mencari sumber dana iklan itu bukanlah perkara sulit bagi pengusaha yang satu ini.

“Saya kan bukan pegawai negeri, kalau pegawai negeri, menteri, atau presiden aneh karena uangnya dari rakyat, tapi kalau saya pengusaha tidak masalah uangnya dari mana,” ujar Sutrisno yang memiliki tim khusus yang akan mengurusi pembuatan iklan.

Senada dengan Sutrisno, Humas Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Handoyo mengklaim iklan politik di televisi oleh Wiranto mengenai kemiskinan adalah iklan yang berbeda dengan iklan politik lain.

Menurut dia, media itu berguna untuk mengingatkan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap rakyat ketika dia terpilih pada 2004.

Iklan itu, sambungnya, dinilai efektif karena mendapat tanggapan dari Presiden SBY melalui juru bicaranya Andi Mallarangeng.

“Minimal iklan membuat juru bicara kepanasan, menanggapi hal itu. Ini juga cara yang lebih intelek dibandingkan dengan demonstrasi besar-besaran,” ujar Handoyo. Walaupun demikian, dirinya mengaku tak mengetahui berapa anggaran dana untuk iklan Wiranto tersebut.

Dana tak terbatas

Handoyo menjelaskan pembuat iklan itu berasal dari anggota dan simpatisan Partai Hanura. Namun, dirinya mengaku dana untuk partainya bersifat ‘tak terbatas’ karena masing-masing pengurus di daerah berpartisipasi untuk mengeluarkan dana operasional, bukan dari Jakarta.

Di sisi lain, Handoyo mempersilakan masyarakat berpendapat apakah iklan itu digunakan Wiranto untuk kepentingan Pemilu 2009 atau tidak karena, menurutnya, selama ini iklan itu tak pernah memakai ‘baju’ Hanura melainkan pribadi Wiranto sendiri.

“Ini mengapa iklan itu berbeda, karena tak pernah memakai atas nama Hanura, melainkan hanya keprihatinan pribadi Wiranto.”

Namun, dirinya tak bisa memastikan apakah bosnya itu akan kembali beriklan di televisi dengan mengusung bendera partai menjelang pemilu nanti. Handoyo menegaskan Wiranto hanya ingin mengingatkan bahwa pemerintah seharusnya berkomitmen dengan UUD 1945 dan Pancasila.Mengenai penggunaan dana iklan, Handoyo tidak takut jika nanti partainya diaudit dalam penggunaan dana iklan karena hal itu disyaratkan dalam peraturan.

Rizal Mallarangeng, Direktur Utama Freedom Institute-lembaga gudang pemikir yang didonasi oleh Aburizal Bakrie-, mengatakan dirinya hanyalah memberikan alternatif baru dalam kepemimpinan nasional. Dia mempertanyakan apakah di Indonesia telah terjadi stagnasi dalam sirkulasi kepemimpinan nasional.

“Bukankah Republik Indonesia sebenarnya dipelopori para tokoh yang saat itu berusia muda, seperti Tjipto Mangunkusumo, HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir?” ungkapnya seperti dikutip dalam situs resminya www.rm09.com.

Rizal tak hanya beriklan di televisi, tetapi juga di dunia maya dengan masuk jejaring macam facebook, friendster, blogger, dan wordpress. Dia juga beriklan dengan memasang iklan cetak opininya berjudul Surat untuk Semua di sejumlah media.

Walaupun Rizal mengaku dirinya tak ambil pusing apakah iklan di televisi itu efektif atau tidak. “Memasang iklan adalah strategi untuk maju menjadi pemimpin bangsa. Tapi apakah ini berhasil atau tidak, I really don’t care,” tegasnya.

Adiknya, Zulkarnain Mallarangeng yang kini menjabat CEO Fox Indonesia-perusahaan konsultan politik bentukan Andi, Rizal dan Zulkarnaen-memaparkan dirinya tetap mendukung siapa pun yang berasal dari tokoh muda untuk maju sebagai pemimpin.

Ini karena perusahaan itu tak hanya menangani iklan Rizal, tetapi juga Sutrisno Bachir dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Zulkarnaen, iklan yang dibuatnya itu bertujuan membuat orang kenal dan suka pada si tokoh dalam iklan, hingga masyarakat akan cenderung memilihnya. Apalagi menurutnya sejauh ini iklan itu efektif mendongkrak kepopuleran si tokoh dalam iklan. “Survei menyebutkan persentase kepopuleran dan kesukaan kandidat yang beriklan di kalangan publik semakin meningkat,” ujarnya.

Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Bivitri Susanti mengatakan iklan politik itu hanya menjadikan masyarakat yang dipakai dalam iklan sebagai komoditas. Apalagi, sambungnya, belum ada program yang konkret terkait dengan kandidat calon presiden itu.

“Ini memang efektif bagi pencitraan, tetapi masyarakat yang ada dalam iklan itu hanya jadi komoditas saja. Misalnya masyarakat miskin atau petani. Iklan itu barulah permukaan saja,” tegasnya. (  Wulandari at bisnis.co.idAlamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya /  anugerah.Perkasa at bisnis.co.idAlamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Sumber: Bisnis Indonesia; Sun, 07 Sep 2008

 



3.527 Comments