Nopember 25th, 2008

Farewell, “My Friends”

Saya sudah mencoba dan ternyata memang belum bisa.

Sejak Juli kemarin saya telah menerapkan serangkaian metode kampanye untuk menggugah dan mencari dukungan masyarakat akan perlunya kandidat presiden dari generasi baru. Saya sudah mencoba meyakinkan publik bahwa anak-anak muda juga pantas untuk dipertimbangkan sebagai calon-calon pemimpin pada Pemilu 2009.

Saya melakukannya dengan berbagai cara, dengan iklan di televisi nasional, dalam berbagai acara dialog di radio, tv, koran dan majalah, dalam pertemuan serta keterlibatan di berbagai forum diskusi di banyak penjuru tanah air, dengan penerbitan buku, serta dengan Facebook, Youtube, dan berbagai forum di Internet.

Sejauh ini saya cukup senang bahwa dalam beberapa pembicaraan di tingkat nasional, isu tentang generasi muda dan alternatif kepemimpinan sudah menjadi bagian dari pembicaraan publik. Bahkan, setelah saya mulai awal Juli lalu, beberapa kandidat dari generasi muda, seperti Fadjroel Rahman dan Yuddy Chrisnadi, juga kemudian mendeklarasikan diri sebagai pemimpin alternatif untuk Pemilu 2009. Kepada mereka berdua, saya ingin memberi salut dan penghargaan yang sebesar-besarnya. Dan saya tahu bahwa sebenarnya selain mereka berdua ada banyak anak muda di dalam dan di luar partai yang sanggup dan pantas dipertimbangkan untuk mulai memegang peranan penting di negeri yang kita cintai ini.

Selain itu, dalam banyak perjalanan saya bertemu dengan begitu banyak pihak di berbagai daerah, saya kadang terkesima dan terharu dengan sambutan dan harapan yang disampaikan kepada saya. Beberapa kali saya sempat termenung. For whom the bell tolls, demikian salah satu judul novel Ernest Hemingway. Bagi saya, kepada merekalah dan kepada begitu banyak orang yang merindukan adanya penyegaran, perubahan serta perbaikan hidup, saya ingin menawarkan sebuah harapan. My bell tolls for them.

Tetapi saya juga harus membaca dan menerima fakta-fakta. Dalam dunia politik, apalagi kalau sudah mulai mendapat panggung, kadang kita mulai gampang lupa diri, tak mudah untuk melihat cermin. Karena itulah, setelah mencoba beberapa bulan, saya menguji dan menilai apa yang telah saya lakukan dengan metode modern, yaitu dengan survei akademik. Saya memilih metode ini agar fakta-fakta yang sampai tidak hanya mencerminkan harapan saya semata, tetapi merefleksikan kenyataan yang sebenarnya.

Ternyata, dalam dua kali survei nasional (yang terakhir minggu lalu), dukungan yang saya peroleh belum cukup untuk mencapai momentum yang saya inginkan. Setelah saya mencoba selama lebih 3 bulan, jarak dukungan yang mampu saya dapatkan masih sangat jauh tertinggal ketimbang dukungan kepada dua tokoh senior di papan teratas, yaitu SBY dan Megawati. Sudah ada pergerakan naik memang, terutama dalam soal popularitas atau kedikenalan. Namun dalam soal elektabilitas, angkanya masih sangat jauh, sedemikian rupa sehingga jalan yang ada terlalu terjal bagi saya untuk mengejar ke posisi yang cukup serius. Ditambah dengan pembatasan baru dalam undang-undang, yaitu persyaratan perolehan dukungan 25% suara nasional atau 20% kursi di DPR dari partai pendukung untuk dapat menjadi capres, maka hampir semua pintu sudah tertutup.

Berhadapan dengan kenyataan demikian, saya harus mengambil sikap: jalan terus, against all odds, atau mundur dengan baik. Saya memilih yang kedua dan bersikap realistis. Tidak mudah, memang. Tapi itulah kenyataan yang harus saya hargai.
Karena itu, pada kesempatan ini, saya ingin mengumumkan secara resmi bahwa mulai besok, 20 November 2008, segala upaya kampanye akan saya hentikan dan kegiatan di Sekertariat RM09 Center, Jalan Yusuf Adiwinata 29, Menteng, tidak lagi berhubungan dengan urusan kampanye menuju Pemilu 2009.
Saya ingin menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada keluarga dan sahabat-sahabat yang telah membantu serta memberi simpati kepada saya selama ini.
Hal yang sama juga ingin saya sampaikan kepada semua pihak, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, yang telah memberi dukungan terbuka terhadap kampanye saya. Saya mohon maaf bahwa kali ini harapan dan dukungan tersebut belum mampu saya emban dengan baik hingga tuntas. Mudah-mudahan, jika memang ada pintu yang terbuka, pada Pemilu 2014 saya akan mencoba lagi dan saya harap di saat itulah jalan cerita akan menjadi sedikit berbeda.
Sementara itu, saya akan kembali ke habitat saya lagi, menulis, memberi komentar, mengembangkan lembaga intelektual, dan semacamnya, untuk memberikan kontribusi yang positif. Dengan segala kelemahan dan kekurangan yang ada, saya akan terus berusaha menyumbangkan sesuatu agar Indonesia menjadi sebuah negeri yang lebih baik lagi, lebih toleran, lebih maju dan lebih sejahtera.
Kepada para senior saya, terutama yang berada di papan teratas seperti SBY, Megawati, Jusuf Kalla, Sri Sultan HB X, Wiranto, Prabowo dan Amien Rais, saya ingin mengucapkan selamat. Kepada mereka, kalau boleh, saya ingin mengulang kembali apa yang pernah dikatakan oleh Theodore Roosevelt:

It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man stumbles, or where the doer of deeds could have them better.
The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is marred by dust, sweat and blood…who errs, who comes short and short again, because there is no effort without error and shortcoming; but who does actually strives to do the deeds… who at the best knows in the end the triumph of high achievement; and who at the worst, if he fails, at least fails while daring greatly, so that his place shall never be with those cold and timid souls who neither know victory nor defeat.

Semoga para senior tersebut terus berjalan, mempertahankan integritas pribadi sambil senantiasa memperjuangkan cita-cita bagi sebuah negeri yang membanggakan kita semua.

Terimakasih.

Jakarta, 19 November 2008

 

Nopember 4th, 2008

UU Pilpres Tutup Peluang Capres Muda

JAKARTA–MI: UU

Pilpres yang menyatakan syarat pengajuan calon presiden harus diajukan oleh partai yang memiliki 20% kursi di parlemen atau 25% suara sah secara nasional dianggap menutup kesempatan bagi muka-muka baru untuk mencalonkan diri menjadi presiden. Direktur Eksekutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng menjadi salah satu orang yang merasa keberatan dengan persyaratan tersebut.

“Kita-kita yang muda ini hampir secara politik peluangnya tertutup dengan pembatasan sedemikian tinggi, harapan kaum muda untuk maju dalam pemilihan presiden 2009 hampir kosong. It’s too difficult, terlalu banyak kompromi, banyak biaya,” kata Rizal dalam orasi dan diskusi politik yang diselenggarakan di Kampus Fisip UI, Depok, Kamis (30/10).Menurut Rizal, proses sirkulasi kepemimpinan memperlihatkan gejala-gejala kemandegan. Hal tersebut terlihat dari para tokoh utama yang bertarung pada pemilihan presiden mendatang tampaknya adalah tokoh-tokoh yang sama ketika reformasi dimulai. Jika memang demikian, yang terjadi adalah pertandingan ulangan dari pemilu-pemilu sebelumnya.

“Generasi senior ini harus diingatkan jika tidak ingin adanya kemandegan regenerasi politik. Misalkan, kalau Gus Dur akan maju, kenapa tidak didorong Yeni (Wahid) saja. Kalaupun tidak menang, tetap ada satu pembelajaran politik bagi kaum muda,” lanjut Rizal.

Dalam kesempatan itu, Rizal juga mengingatkan agar politik kembali pada arah yang benar. Politik, sambungnya, bukan menjadi media perebutan kekuasaan melainkan bergerak menciptakan agenda perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Ia akui jika dalam perjalanan itu, akan selalu berhadapan dengan dilema yang seringkali melencengkan maksud demokrasi itu sendiri. “Setiap pemilu selalu ada dilema. Karena yang menang adalah yang mendapat suara terbanyak, ekses populis akan selalu muncul untuk mendulang suara. Mereka menyuarakan suara yang ingin didengar rakyat, bukan sesuatu yang harus didengar oleh rakyat. Walaupun, hal itu belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada atau bisa diwujudkan,” papar lelaki yang akrab dipanggil Celi ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan dalam demokrasi, ada hal-hal yang membutuhkan pengorbanan dan penghematan. Jadi, sepahit apapun kenyataan haruslah dikatakan karena dengan begitu kita bisa belajar. Tidak ada negara yang kaya karena emas atau minyak bumi atau batu bara, tapi mereka kaya karena pengetahuan, hatinya dan tanpa mengeluh, kata dia.

“Kalau ada peluang, saya ingin perjuangkan itu (pendidikan, pekerjaan dan kesehatan). Ya, memang belum ada partainya. Tapi, yang penting there is a will,” ungkap Rizal yang disambung dengan there is a way oleh para hadirin.

Sementara itu, Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan penetapan persentase yang termaktub dalam UU Pilpres tersebut melanggar konstitusi karena UUD 1945 tidak mengatur akan hal tersebut. Sedangkan UU berfungsi untuk menjabarkan tata cara pelaksanaan. Namun, ia akui hal tersebut akan menimbulkan masalah baru jika kemudian ada pihak yang memperkarakannya ke Mahkamah Konstitusi dan kemudian dikabulkan.

“Akan ada puluhan pasangan capres yang mencalonkan diri jika kemudian undang-undang ini ditolak MK. Nanti, akan ada orang yang kemudian menyalahkan saya karena membuat semuanya menjadi lebih rumit,” kata Yusril.

Namun demikian, dalam pandangannya, apa yang diperjuangkan Fadjroel melalui MK terhadap substansi UU Pilpres juga hampir mustahil dikabulkan. Sehingga, hal itu tetap jadi masalah serius yang dia sendiri tidak mempunyai ide bagaimana mengentaskannya.

Pakar politik Eep Saefullah Fatah, dalam kesempatan tersebut, juga berpendapat senada. Dari awal sebenarnya, rumusan yang kemudian disahkan itu sudah tidak sesuai konstitusi. Dengan adanya aturan parliamentary treshold, penyederhanaan pengajuan pasangan capres-cawapres dapat terjadi secara alami. Tapi, UU ini ternyata tidak mencantumkan syarat bahwa yang bisa mengajukan adalah partai yang lolos syarat PT 2,5%.

“Padahal, dengan adanya syarat PT tersebut, paling hanya 7 hingga 8 parpol yang bisa masuk parlemen. Dengan situasi demikian, paling hanya ada sekitar maksimal empat pasang capres yang maju karena mereka tetap harus berkoalisi,” kata Eep.

Terkait peluang SBY maju kembali dalam pilpres mendatang, Eep mengatakan hal itu juga belum pasti. Dengan syarat demikian, Partai Demokrat yang menjadi kendaraan politiknya hanya mempunyai sekitar 7 % suara dan SBY bisa terganjal karenanya. Sedang, peluang pemimpin muda, Eep menyatakan jika demokrasi bukanlah sesuatu yang dibagikan, tetapi sesuatu yang diperebutkan.

“Selama ini, orang muda berharap dibukakan kesempatan dalam politik. Bahkan, ada kaum muda yang berteriak agar kaum tua menyingkir untuk memberikan kesempatan kepada yang muda. Padahal, demokrasi itu harus direbut,” ujarnya. (*/OL-03)

Sumber: Mediaindonesia.com; Kamis, 30 Oktober 2008 19:09 WIB

Nopember 4th, 2008

Revisi UU Pemilu/Pilpres agar Lebih Demokratis

Bakal calon presiden Rizal Mallarangeng pesimistis dapat maju dalam pilpres 2009 dari jalur independen. Namun doktor lulusan Amerika itu optimistis demokrasi di negeri ini akan semakin berkembang di masa mendatang. Dalam usianya yang baru 44 tahun, Rizal mengaku serius maju sebagai Capres. Kalaupun terganjal untuk 2009, masih ada waktu 2014, bahkan pada tahun 2019 usianya masih 55 tahun.Pemikiran Rizal adalah bahwa generasi muda sudah waktunya maju dan harus dimulai dari sekarang. Mereka yang muda-muda harus memberikan pemikiran sehingga dapat dibaca dan diketahui masyarakat. Rakyatlah yang akan menilai mereka apakah layak menjadi pemimpin atau tidak nantinya.

Terkait RUU Pemilu dan Pilpres, Rizal mengatakan persyaratan memajukan capres jangan terlalu berat, misalnya harus 30 persen. Kalau itu dipaksakan paling yang maju dua orang nantinya. Idealnya cukup 10 persen saja.

Hemat kita, adalah hal yang wajar kalau kini ada dua kelompok yang menginginkan perubahan UU Pemilu dan pilpres. Kelompok pertama menginginkan persyaratan pencalonan Presiden diperlonggar sehingga jumlah capres nantinya lebih banyak ketimbang pilpres 2004. Kelompok kedua menginginkan persyaratannya lebih diperketat sehingga jumlah capres nanti maksimal hanya tiga orang.

Sebenarnya, masih ada kelompok ketiga, yaitu mereka yang menginginkan persyaratan pilpres 2009 nanti tidak berubah. Artinya, ketentuan pilpres lalu diterapkan kembali sehingga kemungkinan jumlah capres berjumlah lima orang, seperti pilpres 2004 diikuti: Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Hamzah Haz, Wiranto, dan Amien Rais. Jumlah itu dinilai jalan tengah.

Kalau Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) berpendapat, di dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 nanti sebaiknya rakyat diberi banyak pilihan calon, hal itu boleh-boleh saja sebagai masukan buat Pansus DPR yang akan merevisi UU Pemilu dan pilpres. Bahkan kini melibatkan Mahkamah Konstitusi. Alasannya, untuk mendapatkan calon terbaik, tentunya calon yang diajukan Parpol juga harus lebih banyak, sehingga tidak yang itu ke itu saja calonnya.

Pilpres 2009 sudah dekat. Saat ini, sudah santer terdengar adanya upaya untuk mengganjal figur-figur tertentu dengan mengajukan persyaratan khusus bagi capres. Bahkan, capres dari kalangan militer coba dipanggil terkait kasus penghilangan orang-orang kritis di masa Orde Baru.

Selain syarat perolehan suara, masih ditambah dengan pembatasan usia misalnya maksimal 60 tahun sehingga bisa mengganjal Jusuf Kalla, Gus Dur, Amien Rais, Megawati, Wiranto, Sutiyoso bahkan SBY. Masalah kesehatan harus sehat jasmani, tidak cacat fisik misalnya mata, bisa mengganjal Gus Dur, syarat pendidikan harus sarjana S-1 bisa mengganjal Megawati, dan berbagai syarat lainnya yang dipastikan akan semakin berkembang menjelang pembahasan UU Pilpres di bulan-bulan mendatang.

Terkait manuver politik yang kian berkembang, diprediksi pilpres 2009 jauh lebih seru dibandingkan pilpres 2004. Terlebih lagi bila Jusuf Kalla berani maju mencalonkan diri sebagai capres yang berarti berpisah dengan SBY.

Kita harapkan, hasil RUU Pemilu dan Pilpres nanti memberi kebebasan lebih luas bagi pemilih sehingga perkembangan demokrasi di negeri ini semakin baik dan dapat menghasilkan pemimpin yang benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Oleh karenanya, revisi UU Pemilu dan Pilpres harus dikawal oleh semua pihak agar lebih demokratis dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. (zr–ed.)

Sumber: Tajuk - Berita Sore; 20 Oktober 2008 | 15:59 WIB

Nopember 4th, 2008

UU Pilpres Hambat Regenerasi

JAKARTA(SINDO) - Syarat 20% kursi atau 25% suara yang tertuang dalam UU Pemilu Presiden dinilai hambat regenerasi kepemimpinan nasional.Ketua Majelis Syura (MS) Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyayangkan keputusan syarat dukungan tersebut. Sebab, syarat tersebut akan menyulitkan capres muda untuk ikut bersaing di Pilpres 2009. “Kalau (sudah) ada yang mengajukan judicial review ke MK (Mahkamah Konstitusi), lalu ditolak misalnya, ini sulit bagi yang usia muda untuk tampil,”ujar Yusril seusai menjadi pembicara dalam acara “Orasi dan Diskusi Politik:

Merumuskan Agenda Politik Kaum Muda dalam Pemilu 2009″ di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, kemarin. Hadir dalam diskusi tersebut, antara lain Direktur Eksekutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng dan dosen ilmu politik UI Eep Saefullah Fatah.

Untuk itu, Yusril berharap PBB bisa mengajukan judicial review terkait dengan ketentuan syarat tersebut. “Tapi untuk itu (judical review) kewenangan Ketua Umum DPP PBB (MS Kaban). Kalau nanti saya yang ngomong bukan kewenangan,”katanya. Sebagaimana diketahui, DPR telah mengesahkan RUU Pilpres menjadi undang- undang setelah mengalami beberapa kali penundaan.

Dalam pengesahan itu, Fraksi PAN mengajukan keberatan terkait tingginya syarat dukungan pasangan capres- cawapres. Hambatan lain bagi generasi muda, lanjut Yusril, pertarungan di kancah perpolitikan nasional membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Jika pemenangnya ditentukan dari jumlah finansial, yang akan menguasai pemerintahan dan kursi DPR ialah wajah lama.

“Kelompok yang tidak memiliki basis ekonomi yang kuat akan sulit ikut dalam pertarungan ini. Kaum muda adalah bagian dari kelompok ini,” ungkap mantan menteri sekretaris negara ini. Rizal Mallarangeng menilai terjadi kekeringan regenerasi dalam sirkulasi kepemimpinan politik di Indonesia.

Syarat dukungan itu bisa menyebabkan rekaman ulang Pemilu 2004 akan terjadi lagi pada Pemilu 2009 jika hanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri yang berlaga. “Akan terjadi big match kalau Pak SBY dan Bu Mega lagi. Ini jadi pertandingan ulangan seperti di Pemilu 2004,”kata Rizal.

Capres muda ini memprediksi paling banyak tiga pasangan capres-cawapres yang akan berlaga di pemilu mendatang. Pasalnya, pembatasan melalui syarat dukungan itu membuat harapan para calon muda menjadi nihil. Dia juga menyatakan perlunya mengingatkan kelompok tua untuk tidak hanya berebut kekuasaan.

” Politik cenderung mengikuti apa yang ingin didengar rakyat, padahal yang diinginkan itu belum tentu sesuatu yang harus dijalankan,” tandas kakak kandung Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng ini. Di tempat terpisah,Sekretaris Jenderal DPP PAN Zulkifli Hasan menambahkan, persyaratan tersebut sangat memberatkan partai menengah untuk mengajukan pasangan capres-cawapres.

Dengan begitu, parpol menengah akan dipaksakan untuk melakukan koalisi dengan parpol besar yang telah menentukan calonnya. “Ini yang bisa menghambat munculnya pemimpin alternatif. Yang muncul ya ituitu saja. Peluang capres lain jadi tipis semua karena susah untuk mendapatkan persyaratan itu.

Termasuk peluang SB (Soetrisno Bachir) juga akan jadi tipis,” tutur Zulkifli. Padahal,jika yang diterapkan adalah persyaratan dalam UU Pilpres yang lama, yakni 15% kursi di DPR, paling tidak ada beberapa parpol yang optimistis memenuhi target itu. “Kalau 15% paling tidak ada lima pasangan capres yang bakal maju dan rakyat punya alternatif lebih banyak dalam menentukan pilihannya.

Tapi, bagaimana lagi karena itu sudah disahkan, ya kita tetap menghormatinya meski kita tetap menyampaikan nota keberatan,” ungkapnya. Sementara itu, Eep Saefullah Fatah menilai penetapan syarat dukungan capres dalam UU Pilpres menunjukkan realitas pertarungan partai besar dan partai kecil.

Namun, dia mengkritisi syarat tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk merampingkan jumlah partai politik (parpol). “Merampingkan parpol itu tugas pemilihan legislatif, bukan pilpres. Jadi, seharusnya yang lolos PT (parliamentary threshold) itu yang boleh ajukan capres,” ujar Eep.

Pengamat politik UI ini memperkirakan hasil seleksi pemilu legislatif akan melahirkan sekitar tujuh parpol. Jumlah itu sudah kecil dibanding 16 parpol peserta Pilpres 2004.”Hasil legislatif itu nanti menunjukkan partai mana yang mendapat dukungan dari rakyat. Jadi punya hak,” tandasnya.

Terkait wacana tokoh muda, Eep menyatakan, dalam politik, tidak ada istilah tua dengan tolok ukur statistik (usia). Bergantinya rezim kepemimpinan dari yang tua ke anak muda juga tidak akan memengaruhi banyak hal jika tidak ada kejelasan agenda politik. “Yang perlu dilakukan sekarang adalah mentransformasi pemuda dari sekadar muda dalam arti statistik ke pemuda dalam arti politik,” bebernya.

Dia mencontohkan,Pemilu 1999 telah memunculkan partai dengan basis generasi muda yang menamakan diri Partai Rakyat Demokratik (PRD). Namun, partai itu tidak bertahan lama dan tersingkir dari kancah perpolitikan nasional.”(Jadi) bukan tidak ada eksperimen membuat partai kaum muda,” katanya singkat.

Untuk mengubah dari statistik ke politik,tutur pria kelahiran 13 November 1967 ini, politik harus diarahkan untuk mendengar aspirasi rakyat. Kriteria sudah didengar dan dijalankannya aspirasi itu, yakni ada mandat, keterwakilan, dan akuntabilitas. “Ini dijalankan, tidak hanya diwacanakan,” ucapnya. (rd kandi)

Sumber : Koran Seputar Indonesia ; Jumat, 31 October 2008

Oktober 8th, 2008

Rizal Mallarangeng: Si Aktivis Tipe Baru

Ditulis oleh holden
Saya ingin mencatat beberapa hal tentang Rizal Mallarangeng, sebab Bung yang satu ini punya latar belakang yang menarik sebagai seorang mantan aktivis mahasiswa.

Orang Indonesia mengenal beberapa pepatah yang mempunyai arti sia-sia. Di antaranya adalah pungguk merindukan bulan dan mimpi di siang bolong. Jika kita melihat iklan politik para calon kontestan pemilihan umum mendatang, kita sering berpikir apakah mereka sudah luntur keindonesiannya dan mulai lupa dengan pepatah-pepatah di atas.

Soetrisno Bachir hampir bukan siapa-siapa jika saja iklannya tidak sedemikian eksesif nyelonong tanpa permisi ke ruang keluarga kita beberapa bulan belakangan ini. Sementara Rizal Mallarangeng mungkin cuma dikenal oleh kalangan terbatas masyarakat Indonesia sebelum mulai akrab dengan slogan Where there is a will, there is a way. Cuma Prabowo Subianto yang seharusnya masih diingat masyarakat Indonesia karena masih tersangkut paut dengan keluarga Cendana. Semua tokoh ini berbagi hal yang sama: ingin ngetop mendadak dan berharap dipilih masyarakat Indonesia yang sebagian besar mudah diharu-biru iklan.

Saya ingin mencatat beberapa hal tentang Rizal Mallarangeng, sebab Bung yang satu ini punya latar belakang yang menarik sebagai seorang mantan aktivis mahasiswa.

Aktivis Tipe Baru

Pertama, latar belakang sebelum memutuskan terjun ke politik. Rizal, kita tahu, adalah direktur eksekutif Freedom Institute, sebuah lembaga yang berusaha untuk menyebarluaskan ide-ide tentang demokrasi dan kebebasan pada masyarakat luas lewat penerbitan buku, seminar, dan penganugrahan Achmad Bakrie Award. Sebelum memutuskan pulang untuk membangun lembaga ini, ia sempat mengajar di Ohio State University di mana ia meraih gelar doktornya di bawah bimbingan Bill Liddle. Disertasi yang ia pertahankan kemudian ia bukukan dengan judul Mendobrak Sentralisme Ekonomi Indonesia 1986-1992.

Yang menarik dari disertasi ini, selain gaya tulisannya yang memikat sehingga ekonom Chatib Basri sampai menjuluki Rizal sangat “berbahaya”, adalah idenya tentang komunitas epistemis, yaitu sekelompok individu yang berusaha menyuntikkan gagasan ke tengah masyarakat dan bertarung di pasar pertukaran wacana untuk mempengaruhi pengambilan kebijakan. Ide yang ia kemukakan kemudian menjadi sangat populer di kalangan aktivis mahasiswa yang sadar dengan mandulnya demonstrasi.

Ini kemudian membuat Rizal menjadi berbeda jika kita bandingkan dengan rekan sepantarannya saat ini di pentas nasional seperti Fadjroel Rahman; ia bukan aktivis yang dikenal sebagai demonstran. Rizal semasa masih menjadi aktivis mahasiswa lebih dikenal karena tulisan-tulisannya. Konon, ia adalah bagian dari mereka yang mendirikan Sintesa, sebuah lembaga pers mahasiswa di almamaternya Fisipol UGM. Ia pun aktif menulis di berbagai media nasional. Tulisan dan gagasannya tajam. Ia pernah meragukan kapasitas Arief Budiman sebagai seorang ilmuwan dan menjulukinya sebagai aktivis Kantian yang kukuh dengan ide-ide sosialisme walau langit runtuh. Ia juga membabat mereka yang meragukan perannya dalam negosiasi Cepu dengan balik menyerang pihak yang mengkritik Exxon hanya atas dasar nasionalisme semu sebagai bandit sebenarnya dalan kredo Samuel Johnson: nationalism is the last refuge of scoundrels.

Dari segi ideologi, Mallarangeng yang satu ini juga sangat menarik. Ia tidak jatuh dalam tradisi mantan aktivis mahasiswa Indonesia yang cenderung ke kiri secara ideologi, ia bahkan sangat condong ke kanan dalam spektrum pemikiran politik dan ekonomi. Ia adalah aktivis tipe baru. Bandingkan kembali dengan Fadjroel Rahman yang bercita-cita menasionalisasi aset-aset strategis dan terinspirasi kebijakan para pemimpin di Amerika Latin seperti Hugo Chavez. Dalam sejarahnya memang aktivis mahasiswa Indonesia banyak yang kiri secara ideologi, misalnya Hatta, Sjahrir, dan tentu saja Arief Budiman. Namun tentu saja kita harus melihat mereka secara historis sebagai bagian dari produk zaman. Kini di awal abad ke-21 ide-ide kiri konservatif ala nasionalisasi aset adalah mitos dan mereka yang tak beranjak darinya adalah mereka yang terbuai.

Apakah Rizal seorang ignoramus yang mengabaikan betapa pentingnya pengaruh pemikiran intelektual kiri? Kita pasti terkejut tatkala mengetahui bahwa pada masa mudanya sebagai mahasiswa Rizal justru sangat kiri sebagaimana diakui kakaknya, Andi Mallarangeng (Jakarta Post Weekender, Agustus 2008). Untuk menjelaskan transformasinya itu Rizal pun mengutip sebuah ungkapan yang sangat terkenal “mereka yang tidak kiri pada umur 20-an artinya tak punya hati, tapi kalau masih kiri di umur 30, itu artinya tak punya otak.” Ini satu dari sekian tindak-tanduknya yang membuat Rizal jadi legendaris di kalangan aktivis mahasiswa Gadjah Mada.

Kebaruan aktivisme Rizal juga dapat dilihat dari tindakannya yang lugas untuk tidak malu-malu berselingkuh dengan kekuasaan. Freedom Institute sebagian dananya ia peroleh dari kucuran dompet konglomerat Aburizal Bakrie yang juga seorang menteri dalam kabinet SBY. Mungkin karena itulah rekannya sesama aktivis, lagi-lagi Fadjroel Rahman, menuduhnya sebagai serdadu intelektual SBY.

Yang kedua menarik dari Bung ini tentu saja iklan politiknya yang unik berbentuk surat, dimuat di sebuah koran nasional beberapa waktu lalu. Inti surat Rizal adalah menjelaskan pilihannya untuk terjun dalam bursa calon presiden dalam pemilu 2009. Rizal tentu sadar kalau tindakannya mirip mimpi di siang bolong, sebab ia tak punya basis dukungan kuat dari partai ataupun ormas tertentu. Tapi apa tepatnya apologi Rizal?

Rizal dengan tegas dalam suratnya menyatakan bahwa tindakannya masuk bursa calon presiden bukan masalah kalah atau menang. Pesannya singkat, bahwa di tengah stagnasi regenerasi kepemimpinan nasional yang didominasi muka lama, ada anak muda yang berani mengemban tanggung jawab untuk memimpin.

Terobosan ala Rizal tentu menyegarkan saat kita menyadari banyak aktivis kita yang buntu dalam berpolitik. Pun mereka biasanya hipokrit dalam masalah kekuasaan. Mereka awalnya mengkritik namun akhirnya hanyut ketika berkuasa. Rizal justru beda, ia dengan terang-terangan menunjukkan ambisinya untuk ikut dalam gerbong kekuasaan.

Jika anda bosan dengan aktivis muka lama dan retorika usang, anda perlu beri perhatian lebih pada Bung satu ini. Manuver politik dan gagasannya sungguh-sungguh berbahaya.

September 7, 2008

(Sumber: http://cafeterianiks.wordpress.com/2008/…)

 

September 12th, 2008

Rustam F. Mandayun: ”Jurnalistik Mempertemukan Saya dengan Celli”

Masih muda tapi punya pergaulan yang luas, itulah kenangan yang diingat Rustam F. Mandayun, Corporate Scretary TEMPO, tentang Rizal Mallarangeng ketika kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Rustam yang masuk ke FISIP UGM lebih awal dibandingkan Rizal, tahu banyak aktivitas adik kelasnya itu di kampus. “Saya senior dia, empat tahun di atasnya. Tapi dia bisa bergaul lintas generasi. Saya awalnya tentu lebih kenal kakaknya, Anto (Andi Mallarangeng), yang angkatan ‘82 itu,” tutur Rustam.

Meski beda angkatan, Rizal Mallarangeng bisa bersahabat dengan Rustam lantaran mereka sama-sama aktif di kepengurusan Jurusan Komunikasi FISIP UGM dan mempunyai minat yang sama. “Dia punya minat yang sama dengan saya, yaitu di bidang jurnalistik. Itu yang membuat kita bisa segera berteman,” kata Rustam yang pernah mengepalai Biro Tempo Yogyakarta ini.

Ihwal kesukaan pada jurnalistik itu Rustam melanjutkan kisahnya, “Pertama dia (Rizal) mengenal dunia jurnalistik sebagai aktivitas kemahasiswaan itu bisa dibilang karena saya ajak. Pada 1985 kami melakukan perjalanan jurnalistik selama satu minggu-an ke wilayah-wilayah eksotis, salah satunya ke Nusa Tenggara Barat. Dia termasuk dalam tim saya. Kita berlima waktu itu, tapi yang turun liputan ke lapangan empat orang,” kenang Rustam.

Sebagai mahasiswa tingkat awal, Rizal tentu senang dengan pengalaman itu. Selain perjalanan mereka dibiayai Tabloid Mingguan Mutiara, mereka pun mendapatkan honor ketika tulisannya dimuat di tabloid milik grup Sinar Harapan itu.

Kalau Rustam ikut berperan mengantarkan Rizal Mallarangeng ke dunia jurnalistik, demikian juga sebaliknya. Menurut Rustam, Rizal-lah yang membukakan pintu bagi kariernya di Majalah Tempo. “Hubungan kami ini rupanya simbiosis mutualistis,” seru Rustam.

“Selain bergaul lintas generasi, Celli kebetulan juga bertetangga dengan Kepala Perwakilan Tempo Yogyakarta waktu itu, Syahrir Chili. Pada 1987 ketika saya selesai kuliah, tetangganya itu memberi tawaran kepada Celli untuk jadi wartawan Tempo. Celli saat itu bilang, saya belum selesai kuliah, tapi ada teman saya yang sudah selesai kuliahnya, namanya Rustam. Ya udah, saya dikasih tahu, akhirnya saya jadi wartawan Tempo. Jadi yang membukakan pintu menjadi wartawan Tempo ya Celli itu,” kata Rustam.

Lantaran pergaulannya yang panjang dengan Rizal Mallarangeng, Rustam punya opini khusus pada adik kelasnya di UGM ini. “Dia orang yang confident, fokus, dan sudah jelas tujuannya. Tujuan hidupnya itu sudah jelas, dia ingin jadi pemimpin. Itu sudah pasti, sudah kelihatan, dan dia memang berbakat serta punya usaha untuk mewujudkannya,” tandas Rustam.(dn)

 

September 12th, 2008

Catatan dari Nono Makarim terhadap “Surat Untuk Semua” dari Rizal Mallarangeng

Ditulis oleh Nono Anwar Makarim

Atika (istri Nono Makarim-red.) langsung berkata, “Saya dukung,” saat saya beritahu bahwa Celli (Rizal Mallarangeng) mau terjun di kancah Candradimuka. Lalu saya berpikir. Ketika menerima surat jawaban Celli, saya berpikir lebih lanjut. Hasilnya alakadarnya, di bawah ini:

 

CELLI MUSTI BERPIKIR JUGA 1

Tiada yang ajaib dalam status muda, kecuali bahwa mereka dibesarkan dalam keadaan yang lebih buruk ketimbang zaman orangtuanya dibesarkan. Banyak yang cerdas, begitu pula dengan generasi tua. Banyak yang punya integritas tangguh, begitu pula yang tua-tua. Banyak yang punya hati, seperti generasi ayah dan kakeknya. Seperti generasi tua, banyak juga orang muda yang korup. Status muda bukan alasan yang cukup kuat untuk terjun ke arena pemilihan presiden. Tiada sesuatu yang spesial di situ. Tiada perbedaan yang menentukan di situ dengan apa yang sudah berlangsung. Dengan keremajaan belaka takkan menderas arus alternatif yang didambakan Celli. Jika keremajaan memang demikian signifikannya, niscaya takkan seperti air terjun gerak merosotnya Indonesia sejak merdeka.

 

CELLI MUSTI BERPIKIR JUGA 2

Celli musti berpikir tentang pengorbanan Dr. Cipto Mangunkusumo dalam konteks waktu dan ruang. Andaikan beliau hadir di antara kita pada 2008 ini, bagaimana gerangan format dan isi pengorbanannya. Kalau pada jaman dokter Jawa yang mustahil adalah kemerdekaan bangsa, suatu ide yang merebut imajinasi suatu bangsa, apa yang mustahil sekarang ini tapi begitu dahsyat sehingga bisa seketika merebut ratusan juta orang Indonesia? Pada 1946 penulis Italia, Ignazio Silone, bicara pada Kongres PEN di New York tentang pengkhianatan kaum intelektual. Kecerdasan berpikir diabdikan pada politik kekuasaan. Topik itu sudah basi. Terlalu mengagungkan status kaum cerdik-pandai. Tapi Silone berbicara tentang hal lain, yang lebih abadi, lebih memaparkan luka kemanusiaan. Ia bicara tentang kelanggengan kenyataan telanjang di hadapan mata kita semua. Di Timur Tengah namanya fellah, di Asia namanya kuli, di Australia kaum aborigine, di seluruh dunia kaum melarat. Saya kira Dr. Cipto Mangunkusumo akan terjun menangani kemustahilan masa kini: mengentaskan kemelaratan bangsa.

 

CELLI MUSTI BERPIKIR JUGA 3

Celli musti berpikir tentang hasil berbagai survey di dunia dalam dasawarsa kita kini. Betapa tercengangnya kita membaca bahwa mayoritas rakyat di dunia tidak peduli pada demokrasi atau diktatur, asal kesejahteraan mereka ditingkatkan, asal mereka diangkat dari kemelaratan. Celli musti berpikir tentang tak adanya seorang politikus pun yang bicara, apalagi melancarkan kampanye pengentasan kemiskinan dalam masyarakat bangsa yang kian hari menjadi kian miskin. Kalaupun ada satu-dua orang bicara tentang kemiskinan, maka hal itu diucapkan sebagai bagian dari statistik atau politisasi issue kemelaratan. Tak seorang pun yang berani turun tangan dan menggandeng kaum yang susah makan keluar dari kesengsaraan secara rasional, secara terorganisir, secara terpikir, dusun demi dusun, kampung demi kampung, desa demi desa. Sementara itu seorang sosiolog Universitas Indonesia bilang bahwa pola pilihan politik di Jawa menunjukkan elektorat yang menghubungkan dukungan politik dengan hasil nyata di lingkungan kehidupan mereka (Tanya Ari Koencoro ttg penelitiannya).

 

CELLI HARUS BERPIKIR JUGA 4

Di seluruh dunia mereka menuntut perubahan. Tidak peduli siapa yang mengubah nasib yang hidup di bawah garis miskin: Tuakah, mudakah, sipilkah, doktorkah. Di Amerika Latin mereka bahkan tidak peduli apakah Junta Militer kembali menteror bangsa-bangsa, asal kesejahteraan mereka meningkat. Obama menang dari Clinton bukan karena dia muda, tapi karena dia melukiskan bahwa perubahan itu tidak mustahil. CHANGE adalah yang kita semua inginkan. Enough is enough! Cukup sudah udara dikotori polusi, cukup sudah gereja, mesjid, kelenteng dibakar, cukup sudah agama kebencian disebarkan, cukup sudah uang rakyat dirampok oleh para penjaganya. Orang terperanjat menyaksikan banjir dan kekeringan bersilih-ganti setiap tahun tanpa ada yang mengulurkan tangan mengatasi, kecelakaan lalulintas jarak-jauh, kecelakaan kereta api tanpa ada upaya yang sungguh-sungguh meneliti sebab musabab dan bertindak. Jabatan publik bukan sasaran untuk mengabdi. Public Office diperebutkan untuk dijadikan sawah keluarga, sanak-saudara dan handai taulan. Para solidarity-makers sudah permisi keluar gelanggang bersama Sukarno. Para administrators pulang bersama Hatta dan Berkeley Maffia yang dicaci sebagai anteknya IMF dan Bank Dunia. Kharisma tidak ada lagi, platform janji kemana orang mau diajak tak tampak, lalu apa yang tersisa? Mana alternatif yang dinanti-nanti? Dimana orang Indonesia yang utuh, yang mau berkorban menjadi bagian dari sesuatu ide yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mana kawan saya yang bersedia . . . to become part of a purpose larger than him-/herself?

 

CELLI HARUS BERPIKIR JUGA 5

Upaya jadi presiden bukan permainan tabrak lari, bukan juga soal judi. Dia juga soal perjalanan yang panjang. Obama tidak mendadak sontak jadi calon partai demokrat. Ini soal jalan yang panjang, berliku, di bawah terik matahari Nusantara yang sedang dibakar bumi yang memanas. Dalam lirik lagu The Beatles, kalau mau jadi presiden musti bersedia mengarungi The Long and Winding Road. Jalan Panjang itu dimulai di Jakarta. Saya sudah mencoba meyakinkan Sjahrir untuk bertolak dari Jakarta Raya, tapi dia tak begitu yakin. Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia yakin bahwa jika mau merebut Indonesia, pertama harus direbut adalah Jawa; jika mau rebut Jawa, yang mesti dikuasai adalah JAKARTA. Dari Jakarta akan terpantul alternatif yang asli. Pantulan itu akan mencapai seluruh Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Pantulan itu juga akan mengglobal dari Lhok Seumawe mengitar ke barat hingga pantai-pantai Irian. Pada Statue of Liberty terukir kata-kata yang mengundang mereka yang tertindas, yang tersingkir, yang terhempas. Betapa dahsyatnya imajinasi bangsa yang terbangkit oleh suatu gerakan yang mengulurkan tangan pada mayoritas yang tersingkir, terhempas, dan tertindas. Betapa banyaknya tangan yang menawarkan ingin membantu.

Dari Bangladesh ada suatu dongeng. Judulnya Muhammad Yunus. Dia berani turun ke medan untuk menciptakan alternatif, dan seluruh dunia membungkuk-hormat. Apa belum tiba saatnya bagi bangsa kuli, dan kuli di antara bangsa?

Jakarta, 27 Juli 2008

 

September 12th, 2008

Banyak Calon, Peluang Tipis

JAKARTA(SINDO) - Kandidat presiden untuk 2009 terus bermunculan. Sementara tiket calon presiden akan diperketat melalui syarat dukungan parpol dalam RUU Pilpres.

Jumlah calon presiden yang akan diusung partai politik (parpol) atau diwacanakan ikut Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 mendatang sudah mencapai puluhan tokoh. Di antara mereka, ada yang telah resmi diusung partainya, seperti Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Yusril Ihza Mahendra dari Partai Bulan Bintang, dan Susilo Bambang Yudhoyono yang hampir pasti maju kembali lewat Partai Demokrat.

Selain itu, masih banyak tokoh parpol yang berpeluang besar maju sebagai capres ataupun cawapres, seperti Jusuf Kalla dari Partai Golkar. Kalla kemungkinan besar akan berebut pengaruh dengan Akbar Tandjung, Fadel Muhammad, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang punya peluang sama.

Dari Partai Hati Nurani Rakyat ada nama Wiranto, sementara Prabowo Subiyanto kemungkinan menjadi capres Partai Gerakan Indonesia Raya. Partai Keadilan Sejahtera memiliki Hidayat Nur Wahid dan Tifatul Sembiring yang punya peluang sama. Sementara Partai Amanat Nasional ada Amien Rais dan Soetrisno Bachir.

Di luar tokoh parpol, ada sejumlah nama yang punya keinginan maju sebagai capres, seperti Sutiyoso, Rizal Ramli, Rizal Mallarangeng, Fajroel Rahman, Ratna Sarumpaet, Kivlan Zein, dan Slamet Subijanto.

Banyaknya capres merupakan kemajuan bagi demokrasi. Rakyat pun diuntungkan karena banyak alternatif untuk memilih calon pemimpin. Namun, fenomena tersebut laksana fatamorgana karena jumlah pasangan capres-cawapres dalam pilpres mendatang akan dibatasi seminimal mungkin.

Jumlah capres bejibun, tetapi peluang mereka tergolong sangat tipis. Sebab, syarat dukungan untuk mengajukan pasangan capres masih tinggi. Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiharto menyatakan, banyaknya figur capres merupakan keuntungan bagi proses demokrasi. Sebab, tampilnya pemimpin baru sangat terbuka. Karena itu, dia mendesak agar aturan syarat dukungan capres tidak terlalu tinggi sehingga memberi peluang bagi figur baru untuk tampil.

“Kalau syaratnya 30%, berarti nanti maksimal ada tiga pasangan capres. Ini sangat tidak baik bagi demokrasi karena yang tampil hanya tokoh-tokoh lama. Seharusnya rakyat diberi banyak pilihan,” ujarnya kepada SINDO kemarin. Hingga saat ini, Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Pemilu Presiden belum satu suara mengenai besaran persentase syarat dukungan.

Hingga sekarang persentase syarat dukungan masih berkisar antara 15% sampai 30% dari suara sah. Partai Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa masih bersikukuh dengan 30%. Kedua parpol tersebut kemungkinan besar bakal mendapatkan dukungan dari PDIP. Sementara parpol menengah dan kecil menginginkan syarat dukungan cukup 15% karena membuka peluang tampilnya banyak capres.

Menurut Bima, pembahasan RUU Pilpres harus memperhatikan realitas politik dan tren yang berkembang di masyarakat. Kecenderungan masyarakat sangat mengharapkan tampilnya figur baru yang membawa harapan baru.Karena itu, pihaknya mengusulkan agar syarat dukungan capres cukup 15%.

“Kami juga mengimbau parpol membuka konvensi untuk menampung munculnya figur baru,” pungkasnya. Ketua Pansus RUU Pilpres, Ferry Mursyidan Baldan, juga menilai positif banyaknya tokoh yang maju menjadi capres. Artinya, sudah ada kesadaran bersama untuk membenahi negara.

Hanya saja, mereka yang ingin tampil harus dilihat seberapa besar kontribusi terhadap negeri ini. Walaupun banyak figur yang berkeinginan maju sebagai capres, Ferry berpendapat, tidak bisa dilepas begitu saja. “Harus ada aturan pengajuan capres. Kalau hanya berdasarkan kemauan, semua orang pasti mau maju. Tapi ini kan tidak bisa,” katanya di Gedung DPR kemarin.

Didominasi Wajah Lama

Peneliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI), Dodi Ambardi, belum melihat adanya tokoh kuat yang akan memenangkan pemilihan presiden (pilpres) mendatang. Dia berpendapat, nama yang muncul saat ini masih didominasi wajah-wajah lama, seperti SBY, Megawati Soekarnoputri, mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung, atau mantan Ketua MPR Amien Rais.

“Mereka ini adalah orang yang memiliki leadership. Tapi, leadership di sini artinya dia yang menjadi ikon partai dan mampu menggerakkan sejumlah orang,” paparnya. Faktor leadership ini yang akan memengaruhi perilaku pemilih. Dia mencontohkan, orang yang mendekati PDIP bukan karena partainya, melainkan sosok Megawati sebagai ikon partai. Demikian juga yang terjadi pada PAN dan PKS. (ahmad baidowi/ rd kandi)

Sumber: Koran Seputar Indonesia; Tuesday, 09 September 2008

 

September 12th, 2008

Di Hadapan Koresponden Asing Rizal Mallarangeng Paparkan Alasannya Maju

Berbicara di hadapan sejumlah wartawan asing yang bertugas di Jakarta, Kamis (11/9), Rizal Mallarangeng berkesempatan menyampaikan alasannya maju sebagai calon presiden dalam Pemilu 2009. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Jakarta Foreign Correspondent Club (JFCC) di Intercontinental Hotel Jakarta itu, selain Rizal tampil juga dua orang kandidat presiden, Amien Rais dan Rizal Ramli.

Mengulang pernyataan politik yang sering disampaikannya dalam berbagai kesempatan, Rizal kembali menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan nasional bagi Indonesia yang bergerak ke depan. “Regenerasi kepemimpinan nasional penting, jika tidak dimulai pada 2009, kita mungkin akan terlambat. Kita harus membuka pintu bagi pendidikan politik. Ini bukan soal saya, Rizal Mallarangeng, tapi ini soal generasi baru Indonesia. Mereka harus belajar mengasah kemampuannya sendiri, mereka harus mencoba untuk berkompetisi dengan seniornya. Kalau mereka tidak belajar dari sekarang, mereka tidak punya kesempatan terbaik lagi menghadapi tahun 2014,” ujar Rizal tentang isu taktis yang ia angkat.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Jason Tedjakusuma itu Rizal juga mengutip laporan terbaru yang dirilis oleh The International Finance Corporation tentang peringkat kemudahan berbinis Indonesia yang turun dari peringkat 127 menjadi 129. “Kalau saya mengutip laporan tersebut bukan berarti saya ingin Indonesia bisa seperti Singapura atau Hong Kong dalam semalam. Tapi lihat, hampir semua kandidat penantang dalam Pilpres 2009 seperti Prabowo, Amien Rais maupun Fadjroel Rachman menganggap permasalahan terbesar bangsa ini adalah karena adanya penguasaan aset strategis oleh asing, bahkan Fadjroel mengangkat isu nasionalisasi ekonomi,” papar Rizal.

“Pemikiran-pemikiran seperti itu tentu tidak tepat bagi penganut globalisasi dan ekonomi pasar. Karena itu salah satu alasan saya untuk maju adalah ingin melakukan counter balance terhadap siapa pun yang berpikiran bahwa masa depan ekonomi Indonesia didasarkan pada model yang dilakukan oleh Morales dan Chavez,” terang Rizal. (dn)

 

September 12th, 2008

New Blood Needed in Indonesia: Presidential Hopeful

Ditulis oleh Aubrey Belford

JAKARTA (AFP) - The old faces of Indonesia’s elite look set to dominate next year’s presidential election but new blood is needed to end the poverty and corruption plaguing the country, outsider presidential hopefuls said on Thursday.

The long campaign for the 2009 vote is already under way and is shaping up as a contest between the incumbent ex-general, President Susilo Bambang Yudhoyono, and his predecessor Megawati Sukarnoputri.

While polls show both leaders dominating the race, Indonesians are fed up with unfulfilled promises 10 years after the 1998 overthrow of dictator Suharto, candidate Rizal Mallarangeng told a forum with foreign journalists.

“I respect these leaders, I respect my seniors, but it is just not healthy if in the last 10 years of the reformation period, we have the same choice again and again,” he said.

Yudhoyono, who trounced Megawati in the 2004 election on a platform of tackling corruption and joblessness, has failed to improve the lives of Indonesians, Mallarangeng said.

Indonesia’s full-year growth for 2007 was 6.32 percent, the fastest rate in 11 years, but the country has made few dents in unemployment.

“If we don’t provide better jobs for these people, for these young Indonesians 20 years from now, not only Indonesia as a society is endangered but also the democracy we have built over the last 10 years will be in danger,” Mallarangeng said.

Another candidate, Rizal Ramli, likened Indonesia’s leaders to “used cars” and said they had left the country lagging behind more dynamic Asian economies.

“I do believe Indonesia cannot use used cars any more, because in the region people are using Formula One cars,” said Ramli, a former top economic minister.

Key candidates in the crowded field for next year’s ballot also include current Vice President Jusuf Kalla, two senior military men from Suharto’s regime, and the hereditary sultan of the ancient Javanese city of Yogyakarta.

Ramli and Mallarangeng are not backed by any major party and have little showing in opinion polls, although Mallarangeng has the support of Indonesia’s richest man, multi-billionaire Welfare Minister Aburizal Bakrie.

An increasingly bitter campaign among members of the old guard could give new candidates a chance to rise through the ranks, Ramli said.

Each of the top candidates “is going to have their own predator. They are going to eat alive every other competitor,” he said.

Yudhoyono’s credibility has been hit by the spectacular failure of two key scientific projects championed by the president and a top adviser.

The much-touted “Supertoy” breed of rice failed to produce promised high yields, while an earlier project claiming to turn water into a sustainable supply of energy was found to be a hoax.

Main rival Megawati’s poll numbers have suffered from a corruption scandal involving a lawmaker from her Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P).

Her support has also been dented by anger over a cheap natural gas deal her administration signed with China in 2002, which the government says would leave the country short-changed by tens of billions of dollars.

Source : AFP ; Thu Sep 11, 10:32 AM ET

 

Next Page »